Senin, 06 Mei 2013

LAPAK SARMILI


Kondisi pendidikan di wilayah Tangerang Selatan tidak serta merta sudah memuaskan. Secara umum, memang dapat kita lihat dari banyaknya jumlah sekolah yang didirikan dan fasilitas pendidikan lainnya, bahwa pendidikan di sana sudah cukup memadai. Namun demikian, masih ada sebagian saudara kita yang mengalami kendala terkait pendidikan ini. Di suatu kawasan bernama "Lapak Sarmili" terletak di Kelurahan Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.
Kendala utama yang mereka hadapi adalah biaya. Walaupun kita sudah mengetahui bahwa anggaran pendidikan ditetapkan sebesar 20% dari APBN, masalah biaya tidak seharusnya muncul di permukaan sebagai kendala utama bagi masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Pada kenyataannya berkata lain, masih ada beberapa anak-anak di kawasan Lapak Sarmili yang putus sekolah dengan alasan kendala biaya yang tidak ada. Apabila masalah ini ditelaah lebih mendetail, memang seharusnya biaya sekolah saat ini (khususnya negeri) sudah jauh lebih terjangkau dengan adanya program BOS dari pemerintah, kemudian apa yang membuat mereka putus sekolah?
Faktor keseriusan orang tua. Hal ini miris sekali untuk diketahui bahwa salah satu penghambat majunya pendidikan anak di Indonesia adalah orang tua mereka sendiri. Masih dengan alasan yang sama, biaya, pola pikir mereka terhadang oleh keadaan jangka pendek yang memerlukan uang untuk kehidupan sehari-hari. Sebagian besar dari orang tua di kawasan lapak berpikir lebih baik anak mereka menghabiskan waktunya untuk membantu mencari uang dengan memulung dan/ atau meminta-minta daripada waktu mereka dihabiskan untuk sekolah. Sebagai orang tua demi menambah penghasilan, melepaskan keinginan untuk menyekolahkan anaknya sendiri adalah termasuk perbuatan dzalim karena telah mengambil hak anak untuk mengenyam pendidikan yang layak.

Kebiasaan orang tua untuk memerintahkan anaknya untuk bekerja di sana juga dialami oleh mereka yang bersekolah. Tidak hanya yang putus sekolah saja, tetapi juga anak yang bersekolah pun harus melakukan pekerjaan memulung dan/ atau meminta-minta selepas pulang sekolah. Hal itu mengakibatkan kemampuan dan prestasi akademis mereka terbilang kurang. Selain setiap pulang sekolah harus bekerja yang mengurangi waktu mereka untuk belajar, pada saat di rumah pun mereka jarang belajar karena tidak ada yang mengontrol dan mengawasi mereka dengan orang tua yang acuh akan hal itu. Oleh karena itu persoalan tersebut sangat membutuhkan perhatian khusus dan mendalam agar kondisi pendidikan di kawasan tersebut mengalami perbaikan.

0 komentar:

Posting Komentar